Website Resmi SMK Negeri 1 Mempawah Timur

Tempora Mutantur, Et Nos Mutamur In Illis ( This is Gen Z )

Penulis: Ridwansyah

“Setiap Masa Ada Zamannya, Setiap Zaman Ada Masanya …”

Kita Harus Berubah …

Beragam perubahan sedang terjadi menuntut masyarakat untuk segera beradaptasi. Jika tidak, ancaman tergilas oleh zaman semakin kuat. Perubahan itu juga menuntut masyarakat menciptakan era baru yang sangat berbeda dari sebelumnya. Bagaimana sebenarnya perubahan itu terjadi dan sejauh mana akan berdampak pada kehidupan?

Rhenald Kasali, dalam manajamen bisnis, mengajak kita untuk siap untuk berubah, mulai dari mengubah gaya manajemen, produk yang kita pakai, sampai cara berpikir kita tentang bisnis sebagai sebuah aktivitas sosial. Obama terkenal dengan semboyannya, Change dan Yes We can! Dia menawarkan perubahan. Perubahan adalah cita-cita setiap orang, namun tidak setiap orang mau membuatnya sungguh menjadi nyata.

Ada 3 kekuatan utama di zaman sekarang yang harus kita kuasai yaitu kekuatan informasi, teknologi, dan kompetisi. Revolusi informasi yang digenjot melalui  informasi komputer, internet, dan komunikasi nirkabel, telah membuat ilmu pengetahuan disegala bidang berkembang 2 kali lipat setiap 2- 3 tahun. 90 % lebih pemikir, penemu, insinyur, ilmuwan, penulis, pengusaha, dan pencipta di segala bidang, hasil kerja mereka nyaris secara langsung dapat dipergunakan oleh ilmuwan lain sehingga keluaran akhir yang diperoleh dari proses pengetahuan ini dapat berlipat dua hingga tiga lipat.

Teknologi komputer berkecepatan tinggi berkembang sangat cepat bahkan kini telah ada komputer  ultra yang dilengkapi microchip yang mampu memproses satu miliar perintah pada satu detik, dengan baterai berdaya hidup panjang, bahkan sebagian komputer jinjing sekarang didalamnya ditanam telepon genggam yang tersabung pada sel-sel dan satelit-satelit yang membuat kita bisa berkomunikasi secara langsung dengan siapa saja kapan saja dimana saja di seluruh dunia. Dengan komputer jinjing, bahkan via telepon genggam, sekarag kita bisa berkirim e-mail ke seluruh dunia dalam berlusin-lusin, beratus-ratus bahkan beribu-ribu kepada orang lain secara simultan, dalam waktu hanya beberapa detik dan dengan biaya yang sangat rendah. Era dimana sekarang kita berada dalam genggaman teknologi 4G pun belum menyeluruh yang merasakannya, kini akan dihadapi lagi dengan teknologi 5G yang lebih cepat dari pada teknologi 4G.

Mungkin, 80 % produk dan jasa yang akan kita gunakan di 5 tahun kedepan adalah produk dan jasa yang benar-benar baru atau hasil perubahan total produk dan jasa yang ada saat ini. Kurang lebih 80% pekerjaan yang dimiliki oleh orang 5 tahun yang akan datang adalah jenis-jenis pekerjaan baru atau pekerjaan-pekerjaan yang telah diubah sebagai akibat ledakan yang terjadi di bidang informasi, teknologi dan kompetisi. Dan setiap perubahan yang terjadi akan memperlebar peluang dan kemungkinan untuk mencapai sasaran dan untuk meraih kemajuan yang lebih besar dan lebih pesat dari sebelumnya.

Mari Kita Bandingkan …

Dulu kita membayangkan bahwa sistem koresponden (surat menyurat) antarpulau sangat lambat sampai ke tujuan dan banyak terpengaruh dengan sumber daya manusianya. Mengirim surat lamaran pekerjaan pun harus melihat cap pos terlebih dahulu. Lompatan teknologi di era 80-an membuat semua berubah. Semula berkirim surat terasa lama menunggu sehingga membosankan akhirnya terpuaskan dengan layanan sort message service (SMS) dan MMS (Multimedia Messaging Service). Perkembangan teknologi komunikasi semakin deras, masif dan semakin canggih. Tak berselang lama, teknologi SMS dan MMS pun tergantikan dengan layanan Messaging, seperti Blackberry, Line, Whatapps, Telegram, zoom dan banyak lagi yang lainnya.

Keberadaan internet dan media sosial semakin membuat zaman terasa cepat sekali berubah.

Dalam upaya itu, perubahan membawa konsekuensi berubahnya tatanan ekonomi, sosial, pendidikan, kultural, budaya, adat istiadat, dan politik masyarakat.

Mari Kita Lihat Gambaran ini …

Hasil Sensus Penduduk Tahun 2020 telah dirilis Badan Pusat Statistik pada akhir Januari lalu memberikan gambaran demografi Indonesia yang mengalami banyak perubahan dari hasil sensus sebelumnya di tahun 2010.

Sesuai prediksi dan analisis berbagai kalangan, Indonesia tengah berada pada periode yang dinamakan sebagai Bonus Demografi. Menariknya, hasil sensus 2020 menunjukkan komposisi penduduk Indonesia yang sebagian besar berasal dari Generasi Z/Gen Z (27,94%), yaitu generasi yang lahir pada antara tahun 1997 sampai dengan 2012.

Generasi Milenial ini yang kan menjadi motor pergerakan masyarakat, jumlahnya berada sedikit di bawah Gen Z, yaitu sebanyak 25,87% dari total penduduk Indonesia. Ini artinya, keberadaan Gen Z memegang peranan penting dan memberikan pengaruh pada perkembangan Indonesia saat ini dan nanti.

Di banyak analisis, para ahli menyatakan bahwa Gen Z memiliki sifat dan karakteristik yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi ini dilabeli sebagai generasi yang minim batasan (boundary-less generation). Ryan Jenkins (2017) dalam artikelnya berjudul “Four Reasons Generation Z will be the Most Different Generation” misalnya menyatakan bahwa Gen Z memiliki harapan, preferensi, dan perspektif kerja yang berbeda serta dinilai menantang bagi organisasi. Karakter Gen Z lebih beragam, bersifat global, serta memberikan pengaruh pada budaya dan sikap masyarakat kebanyakan. Satu hal yang menonjol, Gen Z mampu memanfaatkan perubahan teknologi dalam berbagai sendi kehidupan mereka. Teknologi mereka gunakan sama alaminya layaknya mereka bernafas.

Artikel Bruce Tulgan dan RainmakerThinking, Inc. berjudul “Meet Generation Z: The Second Generation within The Giant Millenial Cohort” yang didasarkan pada penelitian longitudinal sepanjang 2003 sampai dengan 2013, menemukan lima karakteristik utama Gen Z yang membedakannya dengan generasi sebelumnya.

Kelima karakteristik Utama Gen Z tersebut, adalah:

Pertama, media sosial adalah gambaran tentang masa depan generasi ini.

Gen Z merupakan generasi yang tidak pernah mengenal dunia yang benar-benar terasing dari keberadaan orang lain. Media sosial menegasikan bahwa seseorang tidak dapat berbicara dengan siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Media sosial menjadi jembatan atas keterasingan, karena semua orang dapat terhubung, berkomunikasi, dan berinteraksi. Ini berkaitan dengan karakteristik.

Kedua, bahwa keterhubungan Gen Z dengan orang lain adalah hal yang terpenting.

Ketiga, kesenjangan keterampilan. Ini yang menyebabkan upaya mentransfer keterampilan dari generasi sebelumnya seperti komunikasi interpersonal, budaya kerja, keterampilan teknis dan bepikir kritis harus intensif dilakukan.

Keempat, Gen Z menjelajah dan terkoneksi dengan banyak orang di berbagai tempat secara virtual melalui koneksi internet, menyebabkan pengalaman mereka menjelajah secara geografis, menjadi terbatas namun berpola pikir global (global mindset).

Kelima, Gen Z menjadi sulit mendefinisikan dirinya sendiri. Identitas diri yang terbentuk sering kali berubah berdasarkan pada berbagai hal yang mempengaruhi mereka berpikir dan bersikap terhadap sesuatu.

Tidak selamanya kedekatan Gen Z dengan teknologi memberikan keuntungan. Dalam dunia kerja misalnya, O’Connor, Becker, dan Fewste (2018) dalam penelitiannya berjudul Tolerance of Ambiguity at Work Predicts Leadership, Job Performace, and Creativity, menemukan bahwa pekerja yang lebih muda menunjukkan kapasitas yang lebih rendah untuk mengatasi ambiguitas lingkungan dibandingkan dengan pekerja yang lebih tua.

Generasi lebih muda terbiasa mengekspresikan keinginan untuk hal-hal yang bersifat kebaruan termasuk pada bidang pekerjaan yang sifatnya lebih menantang. Namun, mereka belum memiliki keterampilan dan kepercayaan diri yang mumpuni untuk mengelola ketidakpastian lingkungan yang sering kali terjadi sehingga cenderung menjadi lebih cemas. Ini semacam mematahkan asumsi yang selama ini terbangun bahwa menjadi penduduk asli digital (digital native), artinya melengkapi kekurangan dari karakteristik generasi sebelumnya melalui keterampilan yang lebih adaptif dan inovatif dalam mengatasi situasi ketidakpastian. Dasar yang dikemukakan dalam penelitian ini cukup beralasan.

Penelitian American Psychological Association yang dikutip dalam Media Literasi bagi Digital Natives: Perspektif Generasi Z di Jakarta (2018) menegaskan temuan tersebut. Kemampuan mengelola stres dan mencapai gaya hidup sehat semakin menurun di setiap generasi. Jika fenomena ini berlanjut, maka ke depannya, Gen Z akan menjadi generasi yang paling stres sepanjang sejarah. Kondisi ini juga berkaitan dengan karakter Gen Z yang tidak memiliki batasan dengan individu lain, sehingga memungkinkan mereka mudah labil karena menerima terpaan informasi dan kondisi yang cepat berubah dan serba acak.

Bagaimana Seharusnya Pendidikan Bertransformasi?

Dari sekian banyak analisis, David Stillman dan Jonah Stillman (2017) memberikan gambaran lebih komprehensif tentang karakter Gen Z. Dalam bukunya Gen Z @ Work: How The  Next Generation is Transforming the Workplace, ayah dan anak ini mengidentifikasi tujuh karakter utama Gen Z, yaitu: figital, fear of missing out (FOMO), hiperkustomisasi, terpacu, realistis, Weconomist, dan do it yourself (DIY).

Di konteks pendidikan, pemahaman tentang karakteristik setiap generasi menjadi penting untuk menentukan bagaimana strategi pendidikan yang efektif diberikan kepada siswa. Tujuannya tidak sekadar capaian akademik dan pedagogik siswa, tetapi juga bagaimana proses pendidikan dapat menumbuhkan karakter dan kecintaan siswa terhadap aktivitas belajar. Saat ini, sebagian besar dari Gen Z berada pada usia sekolah. Ini berarti, penyesuaian sistem belajar dalam ruang-ruang pendidikan kita harus mempertimbangkan karakteristik Gen Z agar sesuai dengan kebutuhan mereka tanpa mengesampingkan minat dan habituasi mereka sebagai sebuah kelompok generasi.

Pada karakter figital, guru harus banyak melakukan pengamatan tentang bagaimana siswa memadukan sisi fisik dan digital dalam cara mereka berinteraksi, hidup, dan belajar. Ini kemudian akan menjadi landasan bagi guru untuk menentukan metode pembelajaran yang akan gunakan.

Penutupan sekolah karena masa pandemi COVID-19 sebenarnya memberikan dorongan positif bagi guru untuk lebih berkomitmen, konsisten dan terbiasa memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran.

Guru sudah harus semakin terbiasa menggunakan sarana pembelajaran yang beragam melalui teknologi digital, agar siswa tetap dapat aktif dan tersambung dalam pembelajaran dalam berbagai kondisi pembelajaran yang ada. Guru juga perlu untuk lebih terbuka terhadap tambahan leksikon baru sebagai media dan perangkat pembelajaran. Ini dapat berupa visual, video, atau bahkan simbol tertentu yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas komunikasi antara siswa dan guru. Guru perlu lebih kreatif dalam mencari dan menerapkan solusi figital untuk meningkatkan dan menyebarkan budaya pembelajaran.

Karakter FOMO

Karakter ini menjadi salah satu tantangan pendidikan. Pada karakter ini, Gen Z memiliki rasa ingin tahu yang tinggi tentang berbagai hal, khususnya hal-hal baru. FOMO menjadikan siswa terpacu untuk mengetahui berbagai hal dari sumber-sumber informasi yang tersebar dan mudah diakses saat ini. Itu mengapa, Gen Z memilih untuk selalu terhubung aktif dengan komunitasnya agar informasi yang beredar dalam komunitasnya tidak terlewatkan, salah satunya melalui media sosial.

Pendidikan perlu menjadi media yang terbuka dan mewadahi berbagai informasi yang diperlukan siswa tidak hanya pada hal yang berkaitan dengan pembelajaran, tetapi juga keterampilan hidup.

Karakter FOMO merupakan ciri sebuah sindrom kecemasan sosial.

Kebebasan Bersuara dan Menyesuaikan Kebutuhan Belajar

Ciri khas dari Generasi Gen Z adalah Karakter Hiperkustomisasi. Karakter ini menjadi terbiasa menentukan kebutuhan apa yang mereka butuhkan dan perlu dapatkan. Aktivitas mereka berselancar di dunia maya, merupakan bagian dari cara Gen Z memenuhi kebutuhan akan dirinya. Mereka terlibat secara utuh dalam dunia maya-nya.

Dalam praktik pembelajaran saat ini, siswa menjadi sangat kompetitif dengan keragaman potensi yang dimilikinya. Ini perlu menjadi catatan penting bagi pendidikan khususnya guru untuk mampu memfasilitasi karakter terpacu tersebut melalui berbagai media yang mampu mengakomodasi potensi siswa yang beragam, tanpa mengarahkan pada upaya memperbandingkan antara siswa yang satu dan yang lainnya. Siswa perlu lebih banyak diapresiasi dan menjadikan praktik tersebut sebagai bagian tidak terpisahkan dari upaya-upaya reflektif semua pihak dalam memperbaiki kualitas pembelajaran.

Karakter lain dari Gen Z adalah Weconomist. Pada karakter ini, Gen Z lebih menyenangi kegiatan yang sifatnya berkelompok dan selalu terhubung dengan sejawatnya. Dalam pembelajaran, karakter ini dapat difasilitasi dengan penerapan pendekatan pembelajaran yang melibatkan lebih dari satu siswa dan mengondisikan siswa untuk saling berkolaborasi dalam menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran yang diberikan.

Pendekatan pembelajaran berbasis proyek dan sejenisnya akan membuat siswa terbiasa bekerja dengan kelompok dan berbagi informasi di dalamnya.

Siswa perlu lebih banyak didekatkan dengan sesamanya, untuk dapat saling belajar dan memberikan masukan dengan komunitasnya (peer review), dengan tetap menempatkan guru sebagai fasilitator belajar.

Kegiatan eksplorasi siswa juga perlu untuk semakin dihidupkan melalui berbagai percakapan/diskusi antar siswa.

Siswa saling menyampaikan apa yang mereka temui dan mereka harapkan, serta mempertemukan mereka pada berbagai ide dan gagasan. Upaya ini berkaitan juga dengan karakteristik Gen Z yang lebih senang melalukan banyak hal sendiri (DIY/Do It Yourself).

Untuk membangun karakter ini, guru dapat banyak membangun pembelajaran dengan pendekatan yang beragam untuk mendorong kreativitas siswa dalam banyak hal. Internet perlu lebih diarahkan oleh guru sebagai sumber informasi dan inspirasi meningkatkan keterampilan hidup siswa.

Bagaimanapun, proses belajar harus bersifat mandiri, demokratis, dan membuka ranah yang luas bagi penciptaan dan penemuan hal-hal baru dalam pembelajaran. Guru perlu menciptakan iklim belajar yang mampu membangun self regulation pada diri siswa.

Siswa juga perlu lebih banyak dilatih untuk realistis tentang kehidupan dan masa depannya nanti. Guru juga perlu menyampaikan secara terbuka peluang, tantangan dan juga hambatan yang mungkin nantinya akan membuat siswa memerlukan upaya lebih untuk mencapai cita-cita yang mereka impikan.

Dengan berbagai upaya tersebut, pendidikan diharapkan mampu memberikan masukan tentang hal-hal rasional yang perlu Gen Z lakukan dalam kehidupan mereka, pada saat ini dan juga nanti.

 

Sumber: Diambil dari berbagai artikel yang disesuaikan

 

Share this 

Share on facebook
Facebook
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on twitter
Twitter
Share on google
Google+
Share on email
Email
Kategori Artikel

Tinggalkan komentar